Terima kasih kerana memberi pengajaran kepada saya
Sewaktu mahasiswa saya pernah membaca sebuah buku
berjudul Pedogogy for the Oppress (Pendidikan bagi Kaum Tertindas) yang
ditulis oleh Paulo Freire, peneliti Amerika Latin. Salah satu kalimat
yang masih saya ingat sampai sekarang berbunyi, Setiap orang pada
dasarnya adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah.
Tentu
saja saya tidak setuju dengan kata-kata itu. Bagaimana tidak, saya
mempunyai kriteria yang cukup tinggi mengenai seseorang yang pantas
disebut guru. Seorang guru haruslah bisa digugu dan ditiru. Ia haruslah
menjadi role model. Selain itu ia juga harus memiliki kemampuan yang
lebih dibandingkan dengan saya sendiri, paling tidak ia menguasai
sesuatu yang tidak saya kuasai.
Namun
itu pendapat saya dahulu. Belakangan saya harus merevisi kembali
pandangan itu. Pengalaman hidup justru mengajarkan pada saya bahwa
pendapat Freire benar adanya. Saya belajar bukan hanya dari orang-orang
yang saya hormati, melainkan justru dari orang-orang yang menyusahkan.
Bahkan, pelajaran yang saya terima dari orang-orang yang menyusahkan
jauh lebih powerful karena merasuk jauh kedalam pikiran dan sanubari
saya.
Bilamana
orang-orang baik memberikan pelajaran melalui pengalaman yang
menyenangkan, maka orang-orang yang menyusahkan justru memberikan
pengalaman yang pahit dan getir, sebuah pelajaran yang tak akan
terlupakan sepanjang hidup kita.
Belakangan
saya membaca sebuah buku yang menarik berjudul Thank You for Being Such
A Pain karya Mark I Rosen. Buku ini makin memperkuat pendapat saya
mengenai betapa pentingnya peranan yang dimainkan oleh orang-orang yang
menyusahkan dalam hidup kita.
Pengalaman
yang menyenangkan lebih mudah kita kupakan, karena hal itu tidak masuk
terlalu dalam ke dalam memori kita atau bahkan kita menganggap sepele
(taken for granted). Kalau bawahan melayani kita dengan sepenuh hati,
kita mungkin berpikir bahwa itu sudah merupakan tugasnya. Kalau atasan
kita ramah, baik hati dan mau mengerti, kita mungkin berpikir bahwa
memang seperti itulah yang harus dilakukan seorang atasan. Kalau rekan
kerja kita kooperatif, kita mungkin beragumentasi bahwa memang
kewajiban setiap orang adalah saling membantu. Kalau pasangan hidup
kita penuh perhatian, mungkin kita akan berpikir bahwa ini sudah
merupakan hak kita. Bahwa kita memang berhak menerima perlakuan itu.
Kalau
begitu, pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari orang-orang yang
menyenangkan tersebut ? Mungkin ada, tetapi pasti tidak akan semendalam
pelajaran dari pengalaman yang menyakitkan. Misalkan saja, ada
seseorang yang menghina Anda, mengeluarkan kata-kata yang menyakiti
Anda. Mudahkah Anda melupakannya ? Kemungkinan tidak. Biasanya kita
malah memikirkan bagimana membalas sakit hati kita. Namun justru
disinilah manfaat yang diberikan orang-orang ini. Mereka sebenarnya
telah memberikan experential learning yang tidak akan mungkin kita
lupakan, yaitu mengenai betapa sakit rasanya diperlakukan seperti itu.
Rasa
sakit yang luar biasa ini sangat kita perlukan untuk membantu kita
memahami perasaan yang akan dirasakan orang lain bila kita melakukan
tindakan yang sama. Memahami lebih dari sekedar mengetahui. Kalau Anda
mengetahui sesuatu, Anda belum paham karena Anda baru masuk ke
fteorinyaf, tapi kalau Anda sudah merasakannya, Anda akan memahami.
Anda bahkan akan masuk ke alam kesadaran.
Saya
pernah mempunyai atasan yang senang memaki-maki dan merendahkan harga
diri orang lain. Namun, ia sangat berjasa kepada saya karena memberikan
pelajaran mengenai betapa sakitnya diperlakukan demikian. Saya kemudian
berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah menyakiti dan
merendahkan harga diri orang lain dalam situasi apa pun. Saya
benar-benar sadar bahwa setiap orang ingin dianggap penting dan
diperlakukan dengan penuh hormat.
Seorang
teman yang suka menjelek-jelekkan saya di belakang juga telah menjadi
guru besar saya. Ia telah menyadarkan saya akan pentingnya bersikap
loyal terhadap orang yang tidak hadir (loyal to the absent). Tentu
saja, saya sudah pernah mempelajari buruknya menggosipkan orang lain
dari buku-buku, kitab suci ataupun beberapa pelatihan perilaku, tetapi
pelajaran yang paling merasuk jiwa saya justru saya dapatkan dari kawan
saya itu. Rasa sakit yang saya alami justru membuat saya bersumpah
untuk tidak akan pernah melakukan perilaku yang sama.
Ada
banyak lagi guru besar yang dapat saya tuliskan di sini. Ada klien yang
pertama kali bertemu langsung memanggil saya dengan kamu. Ada kawan
yang gemar memberikan label negatif. Ada atasan yang suka berlama-lama
menjawab handphonenya, padahal kami berdua sedang melakukan rapat. Ia
sering membiarkan saya ternganga di hadapannya. Semua orang ini adalah
guru besar saya dalam kuliah Hubungan Antarmanusia.
Karena
itu alih-alih membenci orang ini, kita seharusnya malah berterimakasih
kepada mereka. Berterima kasih disini bukan dalam pengertian sinisme.
Melainkan berterima kasih secara tulus dan dari lubuk hati kita yang
paling dalam. Bukankah hanya orang-orang ini yang berani mengambil
resiko untuk menjadi orang yang tidak disukai ? Bukankah mereka telah
mengajarkan kepada kita untuk menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari
?
Bukankah
dengan pengalaman pahit yang mereka berikan, kita dapat tumbuh secara
spiritual ? Bahkan dalam konteks yang lebih luas, orang-orang itu
sebenarnya telah diutus oleh Tuhan untuk berjumpa dengan kita di dunia
ini, dan mengajarkan sesuatu yang tak dapat diajarkan oleh kawan-kawan
dan sahabat-sahabat kita yang lain.

Comments